Teknologi Digital Mendorong Pelestarian dan Pewarisan Warisan Budaya Dunia

Inovasi Digital: Menyatukan Seni, Sejarah, dan Teknologi

Teknologi digital kini tidak hanya berperan dalam kemajuan industri atau komunikasi, tetapi juga menjadi kekuatan penting dalam pelestarian dan pewarisan warisan budaya. Berbagai inovasi seperti kecerdasan buatan (AI), realitas virtual (VR), hingga realitas campuran (MR) kini digunakan untuk menjaga, memvisualisasikan, dan memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya klasik kepada generasi modern.

Salah satu contoh nyata terlihat di Konferensi Internet Dunia (World Internet Conference/WIC) Wuzhen Summit 2025 yang berlangsung di kota air kuno Wuzhen, Provinsi Zhejiang, China. Dalam ajang bergengsi ini, teknologi digital dipamerkan sebagai sarana baru untuk menghidupkan kembali artefak, karya seni, dan tradisi kuno agar tetap relevan di era digital.

Seni Tradisional Hidup Kembali Melalui Instalasi Digital

Bayangkan Anda berjalan di antara hamparan salju, meninggalkan jejak kaki yang kemudian berubah menjadi aliran air berhiaskan bunga dafodil dan kunang-kunang berpendar di udara. Pengalaman menakjubkan ini bukanlah sekadar mimpi, melainkan hasil dari instalasi seni interaktif berbasis teknologi digital yang menampilkan keindahan lukisan klasik Tiongkok dalam bentuk visual imersif.

Instalasi tersebut merupakan bagian dari Light of Internet Expo, pameran yang menjadi sorotan selama perhelatan WIC 2025. Proyek ini dikembangkan melalui program “Koleksi Komprehensif Lukisan China Kuno” (A Comprehensive Collection of Ancient Chinese Paintings), kolaborasi antara Universitas Zhejiang dan Administrasi Warisan Budaya Provinsi Zhejiang.

Hingga kini, program tersebut telah berhasil mengumpulkan lebih dari 12.000 karya lukisan kuno dari lebih 260 lembaga budaya di seluruh dunia. Tujuannya bukan sekadar mendigitalisasi karya, tetapi juga menghidupkan kembali nilai artistik dan sejarah agar dapat diakses oleh masyarakat global.

Teknologi Holografik dan AI Mengubah Cara Kita Menikmati Seni

Menurut Sun Xiaojun, wakil kepala dewan editorial proyek tersebut, karya seni digital ini menggunakan kombinasi proyeksi holografik, audio spasial, serta sistem interaksi multisensoris real-time. Dengan teknologi tersebut, pengunjung dapat berinteraksi secara langsung dengan elemen-elemen dari lukisan klasik hanya melalui sentuhan.

“Tujuan kami adalah agar karya-karya kuno ini tidak hanya menjadi arsip sejarah, tetapi juga hidup kembali dan menarik minat generasi muda,” ujar Sun. Sejak 2022, hasil digitalisasi ini telah dipamerkan baik di dalam maupun luar negeri, memperluas jangkauan seni klasik Tiongkok ke ranah global.

Revolusi Digital dalam Pelestarian Warisan Dunia

Dalam WIC Wuzhen Summit 2025, digitalisasi warisan budaya menjadi salah satu topik utama. Berbagai sesi diskusi membahas bagaimana AI, VR, dan MR mampu menghadirkan kembali nilai sejarah dan keindahan budaya lama dengan cara yang menarik dan edukatif.

Salah satu proyek menarik di pameran ini adalah simulasi VR yang membawa pengunjung ke masa Dinasti Song (960–1279) di Hangzhou. Melalui perangkat VR, pengunjung dapat menjelajahi arsitektur kayu kuno dengan detail menakjubkan, seolah mereka benar-benar hidup di masa lampau.

Ada pula pengalaman realitas campuran (mixed reality/MR) yang memungkinkan pengguna “melintasi waktu” hingga lebih dari 200 tahun ke belakang untuk menyaksikan proses penyusunan Siku Quanshu, yaitu Perpustakaan Lengkap dalam Empat Cabang Sastra—koleksi literatur terbesar dalam sejarah Tiongkok.

Pembentukan Komite Digitalisasi Warisan Budaya Dunia

Melihat potensi besar ini, Konferensi Internet Dunia secara resmi membentuk komite khusus untuk digitalisasi warisan budaya pada 7 November 2025. Komite ini akan berfokus pada peningkatan kapasitas teknologi, kolaborasi lintas negara, serta pertukaran praktik terbaik dalam bidang pelestarian digital.

Sekretaris Jenderal WIC, Ren Xianliang, menegaskan bahwa pembentukan komite tersebut merupakan langkah penting di tengah pesatnya gelombang digitalisasi global. Menurutnya, AI dan teknologi canggih lainnya menyediakan alat yang kuat dan andal untuk melindungi sekaligus mempromosikan warisan budaya dunia.

“Teknologi memungkinkan kita tidak hanya melestarikan peninggalan masa lalu, tetapi juga membuatnya hidup kembali dalam bentuk yang bisa dinikmati semua orang,” ujarnya.

Tantangan dan Harapan Masa Depan Digitalisasi Budaya

Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, tantangan tetap ada. Ding Pengbo, wakil direktur Museum Nasional China, menyoroti bahwa masih terdapat kesenjangan dalam hal cakupan dan kualitas data digital. Selain itu, penggunaan teknologi canggih seperti AI masih terbatas karena biaya tinggi dan kompleksitas implementasi.

Ding mendorong adanya percepatan pembangunan basis data digital berkualitas tinggi tentang warisan budaya, sekaligus memperkuat kolaborasi global melalui platform seperti WIC. Ia berharap, ke depan akan terbangun ekosistem digital yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan, di mana setiap negara dapat berkontribusi dalam menjaga kekayaan budaya dunia.

Teknologi dan Budaya: Dua Dunia yang Kini Menyatu

Digitalisasi warisan budaya menunjukkan bahwa teknologi dan seni bukanlah dua hal yang berseberangan, melainkan saling memperkaya. Melalui inovasi digital, karya seni dan peninggalan masa lalu kini dapat dinikmati secara interaktif, mendidik, dan mendunia.

Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa kemajuan teknologi tidak harus menjauhkan manusia dari akar budayanya—justru menjadi jembatan baru antara masa lalu dan masa depan, memperkuat rasa identitas, dan memperluas akses terhadap pengetahuan budaya yang tak ternilai.

 

Sumber: antaranews.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *