Kemkomdigi Ajak Generasi Muda Cerdas Menggunakan Teknologi dan AI

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) kembali menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam membangun ekosistem digital Indonesia yang cerdas, sehat, dan bertanggung jawab. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), generasi muda dinilai sebagai kelompok yang memiliki pengaruh besar terhadap pola komunikasi di ruang digital.

Dalam kegiatan CommuniAction 2025 bertema “Aksi Nyata, Komunikasi Terencana” yang digelar di Batam, Kepulauan Riau, Kemkomdigi menekankan bahwa masa depan komunikasi publik Indonesia berada di tangan kreator muda yang inovatif dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.

Peran Generasi Muda sebagai Pemimpin Digital Masa Depan

Inovasi Harus Sejalan dengan Tanggung Jawab Publik

Direktur Informasi Publik Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo, menyampaikan bahwa generasi muda tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga pemimpin digital yang menentukan arah komunikasi publik ke depan.

“Di sinilah inovasi dan kreativitas bertemu dengan tanggung jawab publik,” ujarnya.

Menurut Nursodik, generasi muda adalah pihak yang paling adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun juga paling rentan terhadap arus informasi yang masif. Karena itu, kecerdasan dalam menggunakan teknologi dan AI menjadi kunci untuk menjaga ruang digital tetap aman dan kondusif.

CommuniAction Sebagai Gerakan Nasional

Nursodik menegaskan bahwa CommuniAction bukan sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, media, dan anak muda.

Program ini menjadi wadah bagi para kreator muda untuk meningkatkan kemampuan komunikasi publik, memperkuat literasi digital, serta memanfaatkan kreativitas sebagai kekuatan nasional.

“Ini kontribusi kita menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Tantangan Ruang Digital: Tsunami Informasi dan Disinformasi

Kabar Salah yang Memicu Kepanikan

Nursodik menggambarkan kondisi ruang digital saat ini sebagai era “tsunami informasi”. Banyak pesan yang beredar melalui media sosial dan aplikasi perpesanan, namun tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa kabar bahkan menimbulkan kepanikan, ketakutan, atau kesalahpahaman di masyarakat—mulai dari tingkat keluarga hingga komunitas.

“Sering kali setelah ditelusuri, kabar itu tidak pernah terjadi. Hanya salah baca, salah tangkap, dan salah sebarkan,” jelasnya.

Karena itu, Kemkomdigi menilai CommuniAction 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat kemitraan antara pemerintah dan masyarakat demi membangun tata kelola komunikasi publik yang lebih responsif, terpercaya, dan berorientasi pada aksi nyata.

Tantangan Lain: Kecepatan Scroll Mengalahkan Pemahaman

Literasi Digital Menjadi Kebutuhan Mendesak

Dalam sesi pemaparan, Tenaga Ahli Dirjen KPM Kemkomdigi, Latief Siregar, menyampaikan bagaimana kecepatan konsumsi informasi di era digital dapat memicu kerusakan reputasi hanya dalam hitungan detik.

Menurutnya, satu kesalahan kecil dalam berbicara atau menuliskan informasi, ketika dipotong tanpa konteks, bisa berkembang menjadi badai persepsi yang sulit dikendalikan.

Ia mencontohkan kasus jatuhnya Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat, yang runtuh hanya dalam 48 jam setelah pernyataan direksi disebarkan secara tidak utuh.

“Di era digital, video delapan detik bisa dianggap lebih meyakinkan dibanding penjelasan resmi delapan halaman,” kata Latief.

Ia menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki kemampuan kritis dalam memilah informasi, karena fakta kini sering kalah oleh persepsi.

Komunikasi Publik sebagai Pilar Pembangunan Daerah

Komunikasi Terencana, Bukan Sekadar Informasi

Sekretaris Daerah Kota Batam, Firmansyah, yang hadir mewakili Wali Kota Batam, menekankan bahwa komunikasi publik kini menjadi bagian penting dari strategi pembangunan daerah dan nasional.

“Di era percepatan transformasi digital, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi menentukan arah kebijakan,” ucapnya.

Kesalahan komunikasi dapat memicu salah persepsi yang berujung pada keputusan yang kurang tepat. Karena itu, komunikasi yang terencana harus menjadi budaya kerja di seluruh lini pemerintahan.

CommuniAction 2025: Kolaborasi Tiga Pilar Komunikasi Publik

Platform Sinergi untuk Memperkuat Ruang Digital

CommuniAction 2025 mengintegrasikan tiga kekuatan utama komunikasi publik di Ditjen KPM:

  1. Media Monitoring FoMo – pengawasan media untuk mendeteksi isu sejak dini
  2. IGID Menyapa – program pemberdayaan komunitas
  3. SOHIB Berkelas – penguatan konten kreatif berbasis digital

Melalui platform ini, Kemkomdigi berharap dapat mencetak generasi kreator digital yang tidak hanya mahir membuat konten, tetapi juga memahami etika publik, narasi strategis, serta tanggung jawab dalam mengelola informasi.

Dihadiri Praktisi Komunikasi Terbaik

Acara ini menghadirkan tokoh komunikasi dan media digital, antara lain:

  • Latief Siregar – Jurnalis Senior & Tenaga Ahli Kemkomdigi
  • Dody Rochady – CEO Brightminds Communication
  • Singgih Aji Abiyuga – Head Production Indonesia.go.id
  • Rulli Nasrullah – Akademisi dan Praktisi Media Digital

Mereka membahas manajemen isu, riset perilaku publik, dan tantangan narasi digital yang bersifat real-time tanpa batas waktu.

Membangun Generasi Digital yang Cerdas dan Tangguh

Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi, generasi muda memiliki peran sentral dalam menjaga kesehatan ruang digital Indonesia. Melalui CommuniAction 2025, Kemkomdigi berharap generasi muda dapat semakin cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi maupun kecerdasan buatan.

Misi menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya membutuhkan inovasi, tetapi juga komunikasi publik yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada kebaikan bersama.

 

Sumber: antaranews.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *